Minggu, 23 November 2014

[Narasi] Ulysses Moore Pintu Waktu #Bab 1: Argo Manor

Bab 1: Argo Manor

Mobil keluarga Covenant meluncur hingga mendekati rumah dengan atap batu yang runcing, bagai jari telunjuk yang menunjuk ke atas langit. Rumah itu terletak di atas tebing tinggi, di mana ada laut di bawah tebing tersebut. Birunya laut dapat terlihat dari atas tebing. Meski pasir pantai tak tertangkap lagi oleh mata. Sebab, tebing tersebut sungguh tinggi menjulang.

   Mobil memasuki gerbang rumah yang terbuat dari besi, ia berdiri angker. Gerbang itu sepertinya terbuka khusus untuk keluarga Covenant yang hendak berpindah di tempat ini. Penyambutan yang tak biasa dari sebuah gerbang besi rumah kuno.

   “Aku tak mempercayai ini!” begitu yang dikatakan Nyonya Covenant ketika pertama kali melihat rumah ini di hadapannya. Sebab, rumah ini bagaikan kejaiban yang mustahil, atau janggal. Keantikannya membuat seseorang yang melihatnya teringat oleh dongeng atau gambar-gambar dari buku sejarah.  Tempat ini sungguh terpencil, jauh dari hiruk pikuk, keramaian kota dengan berbagai macam hal yang dapat ditemui. Seperti perbedaan budaya, bahasa, dan ada pula tempat-tempat yang dapat dikunjungi.

   Rumah besar di atas tebing ini, yang bernama Argo Manor (nama yang cukup aneh untuk ukuran sebuah rumah, itu yang dipikirkan Nyonya Covenant), adalah hunian tua yang dijaga oleh seorang pengurus rumah tua bernama Nestor.

   Tebing dimana Argo Manor terletak ternyata bernama Salton Cliff. Ya. Dan Salton Cliff rupanya ada pada sebuah teluk, teluk Kilmore Cove. Di daerah ini, rumah-rumah yang sama terpencilnya dibangun mengelilingi teluk, dengan arah menghadap ke laut. Laut bagaikan menjadi perhatian utama penduduk Kilmore Cove.

   Nestor sang pengurus rumah memiliki serta janggut putih yang terlihat tercukur rapi tampak melambai-lambai di dagunya. Bapak tua yang sehari-hari mengurus semua-mua yang ada dalam rumah ini tentunya tahu banyak mengenai Argo Manor. Ia membimbing keluarga Covenant menelusuri setiap sudut rumah dengan cepat. Menyibakkan tirai demi tirai, membuka pintu demi pintu, melirik setiap ruangan yang penuh kisah.

   Nyonya Covenant masih tak mempercayai pengelihatannya. Menurutnya, rumah ini tampak memiliki karakter. Ya, karakter. Maksudnya, tempat ini bagaikan bukan hanya bangunan kayu atau batu yang semata-mata berfungsi sebagai kediaman sebuah keluarga. Namun, rumah ini seperti bernyawa. Rumah kuno ini bagaikan hidup, meski telah hidup selama bertahun-tahun. Bangunan antik di atas tebing ini – seperti terdapat jiwa yang hidup di setiap kayu dan batunya, dan di setiap lorong serta ruangan. Atau barangkali, sang pemilik lamanya meninggalkan jiwanya yang penuh kisah dan misteri di hunian semasa hidupnya, tempat ia menghabiskan waktunya untuk bersuka dan berduka, atau menjadi pria yang misterius yang jauh dari lingkungan sosial.

   Awalnya, Nestor membawa mereka ke teras di mana laut dapat terlihap dari jauh. Di bawah sana, ombak berdebur kencang, serta bau laut – aroma tajam dan amis dapat menusuk hidungmu. Selanjutnya, mereka memasuki ruangan-ruangan lainnya, yang lebih mengagumkan dari bagian luar rumah ini.


   Hunian tua yang tampak hidup – memiliki jiwa ini, di dalamnya terdapat berbagai macam perabotan antik milik sang pemilik sebelumnya, Tuan Ulysses dan istrinya. Meski tempat ini ada di daerah Kilmore Cove, sebuah teluk kecil di Inggris yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, Ulysses menyimpan barang-barang kuno yang mewah, mereka dibawa dari berbagai belahan dunia. Perabot-perabot itu adalah paduan dari berbagai gaya daerah di dunia. Terdapat sebuah vas bergaya Mesir, permadani-permadani Persia yang melapisi lantai, sebuah meja dari Venesia hingga lukisan dari Hudson River School. Namun, entah bagaimana perabot-perabot peninggalan Ulysses ini terlihat cocok dipadukan dalam sebuah bangunan kuno misterius ini.

   “Tempat ini menakjubkan. Jason pasti sangat menyukainya…” desah Nyonya Covenant. Ia samasekali tak mengkhawatirkan Jason, putranya. Jason seorang anak pecinta petualangan, ia akan senang dan menelusuri setiap sudut tempat tinggal barunya ini, tak peduli seberapa asing tempat ini. Namun, putrinya Julia berbeda. Julia berusia sebelas tahun, sama seperti Jason. Dan Julia berbeda sifat dengan kembarannya, ia adalah penikmat keramaian kota dengan orang-orang berseliweran, wajah-wajah baru yang datang dengan latar belakang berbeda. Ia cinta kota dengan keragaman budaya, bahasa dan hal lainnya. Namun, Nyonya Covenant telah diyakinkan si kembar – kedua-duanya akan baik-baik saja.

   Berikutnya, Nestor memimpin keluarga Covenant ke sebuah ruang duduk dengan beberapa pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan sebuah lorong kecil dengan atap melengkung. Ada pintu lain di ujung lorong tersebut. Ruangan ini dahulu terhubung dengan sebuah menara, yang kini telah hilang ditelan badai. Tentu saja, sebab, bangunan ini telah lama berdiri.

   Mereka melihat beberapa jendela disegel. Masalahnya adalah hembusan angin, Tuan Moore telah berpesan pada Nestor untuk membuat benda-benda itu disegel, hingga hembusan angin kencang tak lagi menembus lewat celah-celah kecil. “Yah…, tak ada yang berbeda. Rumah ini masih bermasalah dengan hembusan angin.” Nestor mengakui.

   Ketika hendak meninggalkan ruangan ini, Nyonya Covenant berpaling dan berhenti sejenak, memandangi sebuah pintu kayu yang tampak gosong. Kesannya seperti pintu yang selamat dari api yang melalap-lalap rumah. Atau, pintu ini seperti pernah dibacok. “Apa yang ada di balik pintu ini?” Tanya beliau pada sang pengurus rumah.

   “Mana aku tahu? Pintu ini tak dapat dibuka. Sebab kuncinya telah hilang. Dan aku tak tahu apa yang ada di baliknya. Barangkali pintu ini menghubungkan ke tangki air tua, namun tangki itu sudah tak ada. Yah… rumah ini misteri. Dan aku tak tahu ada apa di balik pintu kayu ini. Benda ini tak lagi berfungsi!” ucap Nestor menjelaskan. “Mungkin ada baiknya menjauhkan benda ini dari anak-anak Anda.”

   Nyonya dan Tuan Covenant tampak setuju. “Ide bagus, meletakkan sesuatu di depan pintu ini.” Katanya.

   “Dengan begitu anak-anak tak ada coba-coba membukanya!” 



Tunggu narasi bab selanjutnya...