Bab
1: Argo Manor
Mobil keluarga Covenant meluncur
hingga mendekati rumah dengan atap batu yang runcing, bagai jari telunjuk yang
menunjuk ke atas langit. Rumah itu terletak di atas tebing tinggi, di mana ada
laut di bawah tebing tersebut. Birunya laut dapat terlihat dari atas tebing.
Meski pasir pantai tak tertangkap lagi oleh mata. Sebab, tebing tersebut
sungguh tinggi menjulang.
Mobil memasuki gerbang rumah yang terbuat dari besi, ia berdiri angker.
Gerbang itu sepertinya terbuka khusus untuk keluarga Covenant yang hendak
berpindah di tempat ini. Penyambutan yang tak biasa dari sebuah gerbang besi
rumah kuno.
“Aku tak mempercayai ini!” begitu yang dikatakan Nyonya Covenant ketika
pertama kali melihat rumah ini di hadapannya. Sebab, rumah ini bagaikan
kejaiban yang mustahil, atau janggal. Keantikannya membuat seseorang yang
melihatnya teringat oleh dongeng atau gambar-gambar dari buku sejarah. Tempat ini sungguh terpencil, jauh dari hiruk
pikuk, keramaian kota dengan berbagai macam hal yang dapat ditemui. Seperti
perbedaan budaya, bahasa, dan ada pula tempat-tempat yang dapat dikunjungi.
Rumah besar di atas tebing ini, yang bernama Argo Manor (nama yang cukup
aneh untuk ukuran sebuah rumah, itu yang dipikirkan Nyonya Covenant), adalah
hunian tua yang dijaga oleh seorang pengurus rumah tua bernama Nestor.
Tebing dimana Argo Manor terletak ternyata bernama Salton Cliff. Ya. Dan
Salton Cliff rupanya ada pada sebuah teluk, teluk Kilmore Cove. Di daerah ini,
rumah-rumah yang sama terpencilnya dibangun mengelilingi teluk, dengan arah
menghadap ke laut. Laut bagaikan menjadi perhatian utama penduduk Kilmore Cove.
Nestor sang pengurus rumah memiliki serta janggut putih yang terlihat
tercukur rapi tampak melambai-lambai di dagunya. Bapak tua yang sehari-hari
mengurus semua-mua yang ada dalam rumah ini tentunya tahu banyak mengenai Argo
Manor. Ia membimbing keluarga Covenant menelusuri setiap sudut rumah dengan
cepat. Menyibakkan tirai demi tirai, membuka pintu demi pintu, melirik setiap
ruangan yang penuh kisah.
Nyonya Covenant masih tak mempercayai pengelihatannya. Menurutnya, rumah
ini tampak memiliki karakter. Ya,
karakter. Maksudnya, tempat ini bagaikan bukan
hanya bangunan kayu atau batu yang semata-mata berfungsi sebagai kediaman
sebuah keluarga. Namun, rumah ini seperti bernyawa.
Rumah kuno ini bagaikan hidup, meski telah hidup selama bertahun-tahun.
Bangunan antik di atas tebing ini – seperti terdapat jiwa yang hidup di setiap
kayu dan batunya, dan di setiap lorong serta ruangan. Atau barangkali, sang
pemilik lamanya meninggalkan jiwanya yang
penuh kisah dan misteri di hunian semasa hidupnya, tempat ia menghabiskan
waktunya untuk bersuka dan berduka, atau menjadi pria yang misterius yang jauh dari lingkungan sosial.
Awalnya, Nestor membawa mereka ke
teras di mana laut dapat terlihap dari jauh. Di bawah sana, ombak berdebur
kencang, serta bau laut – aroma tajam dan amis dapat menusuk hidungmu.
Selanjutnya, mereka memasuki ruangan-ruangan lainnya, yang lebih mengagumkan
dari bagian luar rumah ini.
Hunian tua yang tampak hidup –
memiliki jiwa ini, di dalamnya terdapat berbagai macam perabotan antik
milik sang pemilik sebelumnya, Tuan Ulysses dan istrinya. Meski tempat ini ada
di daerah Kilmore Cove, sebuah teluk kecil di Inggris yang jauh dari hiruk
pikuk kota besar, Ulysses menyimpan barang-barang kuno yang mewah, mereka
dibawa dari berbagai belahan dunia. Perabot-perabot itu adalah paduan dari
berbagai gaya daerah di dunia. Terdapat sebuah vas bergaya Mesir, permadani-permadani
Persia yang melapisi lantai, sebuah meja dari Venesia hingga lukisan dari
Hudson River School. Namun, entah bagaimana perabot-perabot peninggalan Ulysses
ini terlihat cocok dipadukan dalam sebuah bangunan kuno misterius ini.
“Tempat ini menakjubkan. Jason pasti sangat menyukainya…” desah Nyonya
Covenant. Ia samasekali tak mengkhawatirkan Jason, putranya. Jason seorang anak
pecinta petualangan, ia akan senang dan menelusuri setiap sudut tempat tinggal
barunya ini, tak peduli seberapa asing tempat ini. Namun, putrinya Julia
berbeda. Julia berusia sebelas tahun, sama seperti Jason. Dan Julia berbeda
sifat dengan kembarannya, ia adalah penikmat keramaian kota dengan orang-orang
berseliweran, wajah-wajah baru yang datang dengan latar belakang berbeda. Ia
cinta kota dengan keragaman budaya, bahasa dan hal lainnya. Namun, Nyonya
Covenant telah diyakinkan si kembar – kedua-duanya akan baik-baik saja.
Berikutnya, Nestor memimpin keluarga Covenant ke sebuah ruang duduk
dengan beberapa pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan sebuah lorong kecil
dengan atap melengkung. Ada pintu lain di ujung lorong tersebut. Ruangan ini
dahulu terhubung dengan sebuah menara, yang kini telah hilang ditelan badai.
Tentu saja, sebab, bangunan ini telah lama berdiri.
Mereka melihat beberapa jendela disegel. Masalahnya adalah hembusan
angin, Tuan Moore telah berpesan pada Nestor untuk membuat benda-benda itu
disegel, hingga hembusan angin kencang tak lagi menembus lewat celah-celah
kecil. “Yah…, tak ada yang berbeda. Rumah ini masih bermasalah dengan hembusan
angin.” Nestor mengakui.
Ketika hendak meninggalkan ruangan ini, Nyonya Covenant berpaling dan
berhenti sejenak, memandangi sebuah pintu kayu yang tampak gosong. Kesannya
seperti pintu yang selamat dari api yang melalap-lalap rumah. Atau, pintu ini
seperti pernah dibacok. “Apa yang ada di balik pintu ini?” Tanya beliau pada
sang pengurus rumah.
“Mana aku tahu? Pintu ini tak dapat dibuka. Sebab kuncinya telah hilang.
Dan aku tak tahu apa yang ada di baliknya. Barangkali pintu ini menghubungkan
ke tangki air tua, namun tangki itu sudah tak ada. Yah… rumah ini misteri. Dan
aku tak tahu ada apa di balik pintu kayu ini. Benda ini tak lagi berfungsi!”
ucap Nestor menjelaskan. “Mungkin ada baiknya menjauhkan benda ini dari
anak-anak Anda.”
Nyonya dan Tuan Covenant tampak setuju. “Ide bagus, meletakkan sesuatu di
depan pintu ini.” Katanya.
“Dengan begitu anak-anak tak ada coba-coba membukanya!”
Tunggu narasi bab selanjutnya...